Jumat, 20 Mei 2016

Khutbah tentang Hikmah Sabar dan Keutamaannya



Rasulullah saw pernah bersabda bahwasannya jika Allah swt mencintai seseorang maka Ia akan mengujinya. kalau orang itu sabar, maka Allah swt akan menjadikannya orang mulia (mujtaba). Dan jika ia ridha (rela) maka Allah swt akan menjadikannya sebagai orang pilihan yang istimewa (musthafa).
الحمد لله, الحمد لله الذى شرع علينا الجهاد, وحرم علينا الفساد,  وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شهادَةَ أدخرها ليوم المعاد, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الداعى بقوله وفعله إلى الرشاد. اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدِ وعَلى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ فى انحاء البلاد. أمَّا بعْدُ, فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهِ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ ...
Hadirin Jama’ah Juma’ah Rahimakumullah
Marilah dalam kesempatan ini kita bersama meniti ketaqwaan kita dan menigkatkannya sehingga kwalitas hidup ini semkin membaik. Sesungguhnya ketaqwaan itu adalah baro mater kesuksesan hidup ini. Dan hendaklah kita semua tetap berpegang kepada norma-norma syariat yang diajarkan Rasulullah saw. Sebagaimana beliau ajarkan pula cara bersabar menghadapi kehidupan ini.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Tema khutbah jum’ah kali ini sebenarnya bersumber dari sebuah hadits pendek yang berbunyi:
اِذَا اَحَبَّ اللهُ عَبْدًا اِبْتَلَاهُ, فَاِنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ وَانْ رَضِيَ اصْطَفَاهُ
jika Allah swt mencintai seseorang maka Ia akan mengujinya. kalau orang itu sabar, maka Allah swt akan menjadikannya orang mulia (mujtaba). Dan jika ia ridha (rela) maka Allah swt akan menjadikannya sebagai orang pilihan yang istimewa (musthafa).
Jika diperhatikan dengan seksama maka sesungguhnya Allah swt mencintai kita. Hampir semua umat muslim di dunia ini selalu dalam ujian-Nya. Ada yang diuji dengan kegemerlapan dan kekayaan harta, ada yang diuji dengan kekurangan uang. Ada yang dicoba dengan jabatan. Ada pula yang diuji dengan kondisi keluarga. Dan masih banyak lagi ujian-ujian lainnya.
Namun demikian, jarang dari kita yang sadar bahwa segala fenomena di sekitar kita pada hakikatnya adalah cobaan yang berfungsi sebagai ujian kehidupan. Bagaimanakah seseorang menyelesaikan ujiannya? Bagaimanakah proses penyelesian itu. Sebagaian dari kita melenggang menyelesaikan ujian dengan caranya sendiri. Dan sebagian yang lain menyelesaikan ujian sesuai dengan petunjuk dan aturan syariah. Dan ada lagi yang malah menikmati ujian itu dengan membiarkannya tanpa ada usaha penyelesaian.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Hadits yang disebutkan di atas dengan jelas mengkatagorikan dua kelompok yang berbeda dalam penyelesaian ujian dan cobaan. Satu kelompok menghadapi cobaan itu dengan kesabaran dan satu kelompok menghadapinya dengan kerelaan. Mereka yang mampu menghadapi dengan kesabaran itulah para mujtaba dan mereka yang menghadapi dengan kerelaan itulah musthafa.
Secara teoritis istilah musthafa hanya layak disandang oleh Rasulullah saw. Dialah Nurul Musthafacahaya pilihan, dialaha habibil musthafa, sayyidil musthafa, nabiyyil musthafa. Hanya Rasulullah saw lah al-musthafa. Manusia sempurna yang rela di lempar kotoran unta oleh kaumnya sendiri padahal dia memiliki pilihan untuk membalasnya sebagaimana ditawarkan oleh Jibril. Dialah nabi kita Muhammad saw yang rela menggembala kambing padahal dia adalah manusia paling berwibawa. Dia lah manusia yang rela diusir dari tanah airnya sendiri dalam hijrahnya menuju Madinah. Dialah yang rela menahan tentara untuk tidak menyerang Mekah dan memilihi perjanjian Hudzibiyyah. Sungguh al-Musthafa memang hanya layak disandang olehnya. Kemampuannya menanggung pengorbanan dan penghinaan padahal di satu sisi telah tersedia untuknya kemampuan melakukan perlawanan.
Jama’ah jum’ah yang berbahagia
Jika al-musthafa hanya layak untuk junjungan kita, Rasulullah saw maka sebagai umatnya tidaklah berlebihan jika kita ingin meneladaninya dengan berusaha menjadi al-mu’min al-mujtaba. Al-mujtaba sebagaimana dalam konteks hadits di atas adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian kehidupan. Sabar memiiki banyak rujukan kalimat dan makna. Seorang sufi mendefinisikan Sabar sebagai sebuah ketahanan diri menghadapi keadaan tanpa merasa gusar, tidak mengeluh apalagi bercerita kepada sesama. Baik keadaan itu senang ataupun susah. Al-Junaid al-baghdadi berkata dalam Risalah Qusyairiyah  sabar adalah meeguk kepahitan tanpa wajah cemberut “ تجرع المرارة بغير تعبيس” . Sementara Abu Usman berpendapat bahwa sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama dengan menjalani kenikmata.
Demikian, karena pada hakikatnya cobaan itu tidak hanya berbentuk kesulitan, namun kesenangan dan kebahagiaan juga sebuah ujian, kemasyhuran dan kehinaan juga cobaan.
Karena itu Ibn Abbas berkata sebagaimana dikutip oleh Imam Ghazali dalam Ihya ulumuddinbahwa sabar menurut al-Qur’an hanya ada tiga macam. Pertama, sabar kepada kewajiban-kewajiban Allah. Kedua, sabar menghindar dari larangan Allah swt. Ketiga, sabar terhadap musibah Allah swt. dan kesabaran ketiga inilah yang memiliki derajat paling luhur. Dari ketiga bentuk ini Imam al-Qusyairi dalam kitabnya meyebutkan bahwa sabar ada dua macam, yaitu sabar terhadap sesuatu yang sedang diupayakan dan sabar terhadap sesuatu yang ada tanpa diupayakan.
Sabar terhadap sesuatu yang diupayakan adalah sabar dalam meniti syariat yang diperintahkan Allah swt. dan menghindarkan diri dari larangannya. Diantara sabar dalam konteks ini adalah selalu menekuni fardhu yang lima pada setiap awal waktu. Bersabar menjalankan shalat sunnah dhuha, meskipun kondisi ekonomi belum menandakan perubahan. Tetap menadhulukan shalat berjama’ah meskipun teman sekitar mengajak makan siang. Ataupun juga berusaha menolak ajakan rekan untuk mencari kesenangan. Berusaha menghindarkan diri dari berjumpa kemaksiatan dan juga memilih hidup tetap sederhana dari pada berfoya-foya.
Mengenai hal ini kisah kesabaran Nabi Ibrahim dalam menyembelih anaknya merupakah tamsil yang sesuai. Bagaimana nabi Ibrahim sabar mentaati perintah Allah, dan Nabi Ismail sabar menghadapi hal yang tidak diinginkannya.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Sementara sabar terhadap apa yang tidak diupayakan adalah mengkondisikan diri tetap segar, bugar dan berseri menghadapi segala yang telah ditentukan oleh Allah swt.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Semoga kita menjadi bagian orang-orang yang sabar. Orang-orang yang tidak mudah mengeluh, kecuali hanya pada Allah. Orang-orang yang selalu bermuka riang dan orang-orang yang tidak mudah putus asa. Itulah tanda-tanda orang bersabar. Rasulullah saw sendiri pernah berkata ketika ditanyakan masalah iman kepanya, beliau menjawab:
الإيْمَانُ الصَّبْرُ وَالسّمَاحَةُ
Iman adalah keteguhan hati dalam bersabar dan murah hati
Dan yang pasti Allah swt telah meyiapkan posisi orang-orang sabar di atas standard dengan tiga ratus derajat untuk mereka yang sabar beribadah, enam ratus derajat untuk mereka yang sabar menghindar dari ma’shiat dan sembilan ratus derajat bagi mereka yang sabar atas musibah.  Sebagaimana dijelaskan dalam an-Nahl ayat 96 :
ولا نجزين الذين صبروا
Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan 
Demikianlah khutbah jum’ah kali ini, somoga dapat memberikan inspirasi kepada kita semua. Renungkanlah bagaimana kesabaran menjadi jalan alternatif dalam menyelasaikan kehidupan manusia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Selasa, 17 Mei 2016

Khuthbah Untuk Idul Adha (Idul Qurban)



Khutbah idul adha
(ألله أكبر ألله أكبر ألله أكبر) . (ألله أكبر ألله أكبر ألله أكبر) . (ألله أكبر ألله أكبر ألله أكبر) الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لاإله إلا الله والله أكبر . ألله أكبر ولله الحمد .
الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر . نحمده سبحانه وتعالى الذي جعل الخليل إبراهيم إماما لنا ولسائر البشر . أشهد أن لاإله إلاالله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله . أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين
(أما بعد) فياأيها الناس اتقوا الله تعالى واعلموا أن يومكم هذا يوم فضيل . وعيد شريف جليل . رفع الله تعالى قدره وأظهر . وسماه يوم الحج الأكبر .
Allahu Akbar x3 ...walillahilhamd
Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Di pagi yang penuh barokah ini kita berkumpul untuk melaksanakan shalat idul adha, kita mengagungkan nama Allah swt,  kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagunganNya. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti.  Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman kepada Allah swt. Karena itu, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan hadirin sekalian; marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi semua larangan-laranganNya, menjaga aturan-aturanNya dan mencintaiNya. 
Allahu Akbar x3 ...walillahilhamd
Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Idul adha dikenal dengan sebutan hari raya haji, dimana kaum muslimin seluruh dunia sedang menunaikan ibadah haji. Disamping dinamakan hari raya haji, juga dinamakan idul qurban, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat. Sehingga qurban berarti menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sedang dagingnya dibagikan kepada fuqoro’ dan masakin. Masalah pengorbanan dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa suri keteladanan yang dialami nabi ibrahim as beserta keluarganya nabi Ismail as dan siti hajar.
Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Salah satu yang amat kita butuhkan dalam menjalani kehidupan yang baik adalah keteladanan dari figur yang patut diteladani. Sehingga kita memiliki tolak ukur untuk menilai apakah perjalanan hidup kita itu sudah baik atau belum. Karena itu, hari ini kita kenang kembali suri tauladan nabi Ibrahim as beserta keluarganya nabi Ismail as dan siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita, bahkan nabi Muhammad saw harus mengambil keteladanan darinya. Allah swt berfirman ;
قد كانت لكم أسوة حسنة في إبراهيم والذين معه
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada nabi Ibrahim as dan orang-orang yang bersama dia. (al-mumtahanah ; 4)
Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari nabi Ibrahim as dan orang-orang yang bersama beliau, sedikitnya ada tiga pelajaran yang menjadi isyarat bagi kaum muslimin untuk mewujudkannya dalam kehidupan ini, sebagaimana keinginan nabi Ibrahim as yang tercermin dalam do’anya yang disebutkan Allah swt dalam firmanNya ;
رب هب لي حكما وألحقني بالصالحين . واجعل لي لسان صدق في الاخرين
Nabi Ibrahim berdo’a) : ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. (asy-syu’ara; 83-84)
Pertama; pelajaran yang harus kita raih adalah keinginan nabi Ibrahim as untuk memiliki hikmah, yakni amal yang baik berdasar ilmu, karena ketika seseorang telah diberi hikmah oleh Allah swt, ia akan dapat merubah sesuatu yang jelek menjadi baik. Namun jika sesorang tidak diberi hikmah oleh Allah swt, ia akan merusak tatanan yang baik menjadi rusak. sungguh sangat mulia pada diri nabi Ibrahim as yang berdo’a meminta ilmu dan pemahaman agar selalu menjalani kehidupannya di jalan Allah swt. Namun yang amat disayangkan adalah banyak orang yang meminta ilmu kepada Allah swt, bahkan sampai memiliki gelar kesarjanaan tinggi tetapi ilmunya diamalkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan malah mendatangkan kerusakan. Karena itu dengan ilmu manusia bisa saja masuk surga dengan selamat, dan dengan ilmu juga manusia bisa masuk neraka ketika ilmunya digunakan untuk hal-hal yang negatif, bahkan ia akan memperoleh siksa yang lebih dahsyat . Rasulullah saw bersabda ;
أشد الناس عذابا عند الله يوم القيامة عالم لم ينفعه علمه
Orang yang paling pedih siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak dimanfaatkannya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah ra)
Kedua; hal yang luar biasa dari do’a nabi Ibrahim di atas adalah beliau meminta kepada Allah swt agar dimasukkan ke dalam golongan orang yang saleh. Padahal seorang nabi sudah pasti saleh, tapi masih saja beliau berdo’a agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang saleh. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi saleh dan tidaklah merasa tinggi hati dengan kesalehannya. Karena tawadlu’ atau rendah diri adalah bagian dari tanda dari orang yang saleh. Maka hendaklah kita berusaha selalu kumpul dengan orang-orang yang saleh dalam kehidupan dunia ini, sehingga kelak di akhirat kita bisa berkumpul bersama mereka, meskipun kita tidak bisa beramal seperti amalnya mereka. Rasululah saw bersabda ;
المرء مع من أحب
seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya (HR. Muslim).
Ketiga; do’a ketiga dari nabi Ibrahim as yaitu agar menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Nabi ibrahim as sebagai seorang nabi tidak akan berucap atau berprilaku buruk kepada keluarga dan kaumnya, meskipun begitu beliau hawatir bila ada orang yang membicarakan keburukannya. Oleh karena itu, kesempatan hidup kita yang amat terbatas ini harus kita gunakan untuk membuat sejarah hidup yang mulia sehingga menjadi bahan pembicaraan yang baik saat kita telah meninggal dunia. Hal ini bukan karena kita ingin mendapat pujian, tapi karena memang hanya kebaikan yang boleh dibicarakan tentang orang yang sudah meninggal. Namun bila tidak ada kebaikan yang bisa dibicarakan, lalu apa yang akan orang bicarakan tentang kebaikannya? Karena itu menjadi penting bagi kita untuk merenungi kira-kira ketika kita telah meninggal dunia, apa yang orang bicarakan tentang kita? Tentu seharusnya kebaikan dan manfaat hidup kita yang mereka rasakan, bukan karena kita suka menceritakan kebaikan kita kepada orang lain. Manusia terbaik adalah yang paling bisa dirasakan manfaat keberadaannya oleh orang lain, Rasulullah saw bersabda ;
خير الناس أنفعهم للناس.
Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudloi dari Jabir ra)
Dari Ibnu Umar ra bahwa seorang laki-laki datang kepada nabi saw dan berkata; ya Rasulallah, manusia manakah yang paling dicintai Allah dan amalan apakah yang paling dicintai Allah? Rasulullah saw bersabda; manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Sedang amalan yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati orang islam (HR. Thabrani dalam al-Kabir)
Dari uraian di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa diantara meneladani nabi Ibrahim as dan meneladani nabi Muhammad saw menuntut kita untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan keluarga serta memperbaiki orang lain untuk selanjutnya terus bergerak dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan mau berkorban untuk mencapainya.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم إنا أعطيناك الكوثر فصل لربك وانحر إن شانئك هو الأبتر . بارك الله لي ولكم في القران العظيم . وتقبل تلاوته إنه هو السميع العليم . أوصيكم عباد الله وإياي بحسن الطاعة والتقوى لعلكم تفلحون . وأستغفر الله العظيم لي ولكم فيافوز المستغفرين ويانجاة التائبين . وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين
خطبة ثاني
(ألله أكبر ألله أكبر ألله أكبر) . (ألله أكبر ألله أكبر ألله أكبر) ألله أكبر ... الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لاإله إلا الله والله أكبر . ألله أكبر ولله الحمد .
الحمد لله الذي جعل الأعياد بالأفراح والسرور . وضاعف للمتقين جزيل الأجور . وكمل الضيافة في يوم العيد لعموم المؤمنين بسعيهم المشكور . أشهد أن لاإله إلاالله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله . أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين
( أما بعد) فيا عباد الله .إعلموا أن يومكم هذا أكبر الايام والشعائر . فاتقوا الله ما استطعتم وأطيعوه فلن تزالوا بخير ما أطعتم . وأكثروا من الصدقة والإستغفار والتكبير وصلة الأرحام . ولازموا الصلاة على خير خلقه عليه الصلاة والسلام . فقد أمركم الله بذلك إرشادا وتعليما . وإجلالا لقدر نبيه وتعظيما . فقال إن الله وملائكته يصلون على النبي ياأيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما . أللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى أل سيدنا إبراهيم . وبارك على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إيراهيم وعلى أل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد . اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات . اللهم ادفع عنا الغلاء والبلاء والفخشاء والمنكر والجدب والقحط والوباء والسيوف المختلفة والشدائد والدين والمرض والمحن والفتن ما ظهر منها وما بطن من بلدنا هذا خاصة ومن بلدان المسلمين عامة . إنك على كل شيئ قدير . ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولاتجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رءوف رحيم . ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار . عباد الله إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون . أذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم . ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون .